Ciherang adalah "legenda hidup" di dunia persawahan Indonesia. Dilepas sejak tahun 2000, varietas ini sempat mendominasi hampir 60% lahan sawah di Indonesia selama lebih dari satu dekade karena kualitas nasi dan adaptasinya yang luar biasa.
Tekstur Nasi: Sangat pulen, bening, dan tidak mudah basi. Inilah alasan utama mengapa Ciherang menjadi standar harga beras di pasar.
Potensi Hasil: Rata-rata 5–7 ton/hektar, dengan potensi maksimal sekitar 8,5 ton/hektar.
Umur Tanaman: Sekitar 116–125 hari setelah semai.
Tinggi Tanaman: Sekitar 107–115 cm, sedikit lebih tinggi dibanding varietas Inpari, sehingga lebih rawan rebah jika terkena angin kencang atau pemupukan Nitrogen berlebih.
Meskipun sudah berumur lebih dari 20 tahun, Ciherang masih banyak ditanam karena alasan berikut:
Harga Jual Tinggi: Gabah dan beras Ciherang selalu memiliki serapan pasar yang tinggi dengan harga yang stabil.
Adaptasi Luas: Bisa tumbuh baik di sawah irigasi dataran rendah hingga ketinggian 500 mdpl.
Anakan Produktif: Memiliki kemampuan menghasilkan anakan yang banyak (14–17 batang per rumpun).
Kekurangan Saat Ini:
Karena sudah ditanam terlalu lama secara terus-menerus, ketahanan Ciherang terhadap hama sudah mulai menurun. Saat ini, Ciherang cukup rentan terhadap serangan Wereng Batang Cokelat (WBC) dan Hawar Daun Bakteri (HDB) dibandingkan varietas Inpari terbaru.