Inpari 32
Inpari 32 HDB adalah salah satu varietas padi inbrida yang paling populer dan menjadi "primadona" di kalangan petani Indonesia saat ini. Varietas ini dilepas secara resmi pada tahun 2013.
Tekstur Nasi: Tergolong pulen, yang sangat disukai oleh pasar dan konsumen di Indonesia.
Potensi Hasil: Cukup tinggi, rata-rata mencapai 6,3 ton/hektar dengan potensi maksimal hingga 8,42 ton/hektar.
Umur Tanaman: Sekitar 120 hari setelah semai.
Bentuk Tanaman: Tegak dengan tinggi sekitar 97 cm, yang membuatnya cukup kokoh terhadap rebah.
Inpari 32 memiliki reputasi kuat karena "kekebalannya" terhadap beberapa masalah utama di sawah:
Tahan Hawar Daun Bakteri (HDB): Sesuai namanya, varietas ini sangat tahan terhadap bakteri pemicu penyakit kresek (strain III dan IV).
Tahan Penyakit Tungro: Memiliki ketahanan yang baik terhadap virus tungro varian 033 dan 073.
Adaptasi Luas: Sangat cocok ditanam di ekosistem sawah irigasi dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.
Rendemen Tinggi: Petani menyukai varietas ini karena hasil gilingannya (beras kepala) cenderung tinggi dan tidak mudah patah.
Catatan: Meskipun tangguh, Inpari 32 tetap perlu diwaspadai terhadap serangan Wereng Batang Cokelat (WBC) pada musim-musim tertentu, sehingga pengamatan rutin tetap diperlukan.
Inpari 42
Inpari 42 Agritan GSR adalah "si efisien". Varietas ini dilepas pada tahun 2016 dan membawa teknologi Green Super Rice (GSR) dari lembaga riset internasional IRRI.Â
Tekstur Nasi: Sangat pulen, bahkan banyak yang menganggap teksturnya lebih lembut dibandingkan Inpari 32.
Potensi Hasil: Sangat tinggi, rata-rata mencapai 7,11 ton/hektar dengan potensi maksimal hingga 10,58 ton/hektar.
Umur Tanaman: Sedikit lebih genjah (cepat panen) dibanding Inpari 32, yaitu sekitar 112 hari setelah semai.
Bentuk Tanaman: Tegak dengan tinggi sekitar 93 cm, sehingga lebih tahan terhadap rebah akibat angin kencang.
Label GSR pada Inpari 42 bukan sekadar nama, melainkan menunjukkan keunggulan spesifik:
Efisien Input: Tetap mampu memberikan hasil yang tinggi meskipun dalam kondisi input (air dan pupuk) yang terbatas atau suboptimal.
Tahan Wereng: Memiliki ketahanan yang baik terhadap Wereng Batang Cokelat (WBC) biotipe 1.
Tahan Penyakit: Cukup tangguh melawan Hawar Daun Bakteri (HDB) strain III dan IV serta tahan terhadap penyakit blas (patah leher).
Adaptasi Lingkungan: Sangat cocok untuk lahan sawah irigasi dataran rendah hingga ketinggian 600 mdpl.